Selasa, 24 Mei 2011
Lima Detik Sangat Berhaga Untuk Kehidupan Di Dunia Dan Akherat
Merenungkan perjalanan hidup sehari-hari bercermin diri sendiri sudah berapa banyak waktu yang diluangkan mengingat Allah, menghadap, serta memohan rahmat dan ampunanNya
Inilah detik-detik yang bernilai sangat besar bagi kehidupan kita di dunia ini hingga akherat.
1. Bertadabbur membaca Al-Quran menjadi obat penawar buat hati yang sakit
2. Pergi ke majlis-majlis taqlim ia seperti taman syurga Allah dapat menambahkan ridha Allah kepada kita.
3. Khusyu ketika menghadap Allah biarpun semenit maupun sesaat, siapa tahu itulah shalat yang terakhir.
4. Bangun malam bermunajat kepada Allah ketika itu tiada hijab antara hamba dengan sang pencipta.
5. Mencairkan hati untuk menangis walaupun hanya setetes air mata yang sekecil mata lalat, sesungguhnya setetes air mata yang jatuh menetes karena takutkanNya maupun karena menyadari kekerdilan diri mampu memadamkan api neraka yang membakar.
Demikianlah semenit waktu yang ane bisa buat berbagi semoga kita semua selalu dalam lindunganNya amin.
Senin, 23 Mei 2011
Kisah Seorang Muallaf
Kisah ini adalah fiksi kalau ada nama atau tokohnya sama dengan pembaca ane mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Berawal dari persahabatan antara bejo dengan steven asal Amerika mereka berdua adalah seorang muslim, steven yang baru beberapa tahun menjadi muallaf.
Saat itu bejo sedang membeli koran didepan rumahnya tak jauh dari tempat agen koran ada sebuah kafe yang sedang ramai di kunjungi lalu si bejo melihat sahabatnya sedang berdiri di depan kafe dengan raut muka geram dan marah.
Kemudian bejo bertanya kepada steven ada masalah apa anda kesal dan marah sedemikian rupa?, dengan wajah sedih dan marah steven memberitahu bahwa di dalam kafe ini menjual miras (minuman keras). Steven baru saja melihat pekerjanya seorang gadis muslimah!.
Stevenpun geleng-geleng kepala mengapa seorang gadis muslimah bisa bekerja di kafe tersebut yang jelas-jelas menjual minuman keras, kadang-kadang terpaksa menyusun botol-botol miras dan memasukan kedalam tas. ini semua subhat dan pendapatannya haram.
Tak akan ada seorang gadis muslimah yang memang sudah islam sejak lahir dan belajar agama disekolah tidak tahu hokum berkenaan. Di manakah ibu bapa dan sanak saudaranya? Di manakah orang-orang muslim? Di manakah sahabat-sahabatnya? Tidak adakah orang yang memberitahuinya?.
Lalu bejo bertanya kepada steven sudahkah anda menanyai gadis tersebut, sudah jawab steven tapi gadis tersebut hanya tersenyum sambil berkata “Asalkan saya tidak minum tak apalah! Saya terpaksa kerja di kafe ini untuk membantu keluarga” ternyata perkataan gadis tersebut yang membuat steven sangat sedih, kesal, kecewa dan marah.
Dengan nada sedih steven akhirnya berbicara kepada bejo “Jika seorang muslimah dalam Negara muslim sanggup bekerja di kafe yang menjual miras bagaimana dia berada di Negara saya Amerika….sebuah negara kafir…..penduduknya pun kafir…..apakah dia akan sanggup pula menjual kehormatannya dengan alasan terpaksa?”
Steven menyambung lagi perkataannya “Saya pikir lebih baik dia membeli kuali dan jual gorengan ditepi jalan … perkerjaan itu jauh lebih mulia dari pada dia bekerja di kafe yang menjual minuman keras.
“Tidakah dia tahu bahwa Allah S.W.T itu selalu ada! Bukankah Allah S.W.T yang mengaruniakan rezeki! Apakah dia masih belum yakin bahwa Allah S.W.T akan senantiasa membantu hamba-hamba yang taat kepadaNya?”
Bejopun diam seribu bahasa dalam hati berkata “Subhanallah nih bule walaupun muallaf ilmu agamanya mantab!”
Minggu, 22 Mei 2011
Kisah Seorang Anak Yang Berbakti Kepada Orang Tua
Kisah ini menceritakan seorang anak yang mengajak ibunya yang sudah tua mengunjungi sanak saudaranya yang tinggal di kampung tidak jauh dari rumahnya.
Sekembalinya dari berkunjung si ibu kelihatan gelisah dan risau, langsung berlari keluar dari mobil. Langkahnya tergopoh-gopoh menaiki anak tangga rumah.
Pikir si anak yang masih didalam mobil berkata pasti ibu bergegas untuk segera menunaikan shalat maghrib karena azan telah berkumandang di masjid yang berdekatan dengan rumah.
Tapi ketika beliau (ibu) mulai menginjak anak tangga ,”Subhanallah!“ si anak betapa kagetnya melihat najis yang berceceran di anak tangga dan halaman rumah. “Ibu rupanya sedang sakit perut,” bisik hatinya.
Tanpa pikir panjang si anak langsung membersihkan najis dan membuangnya kemudian selang di tarik dan di alirkannya air menuruni anak tangga sampai halaman rumah.
Ibu yang sudah membersihkan diri dan shalat maghrib buru-buru menanggalkan rukuh lalu mengambil ember dan gayung untuk membersihkan anak tangga, alangkah kagetnya si ibu melihat anak tangga dan halaman rumah sudah bersih.
Dengan rasa sedikit malu si ibu bertanya kepada anaknya “tidak shalat maghrib nak” si anak menjawab “tidak apalah bu, saya musafir, maghrib itu bisa di jamak ta’khir dengan isya nanti.
Si ibu tidak bisa berkata apa-apa tangan kanan masih pegang gayung dan tangan kiri pegang ember. Matanya menatap lurus memperhatikan anaknya, dalam hati penuh tanya dan haru, mengucap puji syukur pada Allah karena anak yang di asuh dan dibesarkan dicucikan najisnya setiap hari itu, sekarang pertama kalinya menyucikan najis ibunya.
Merasa senang dirinya dihargai kemudian dalam hati ibu berdo’a “Ya Allah! Begini mulia rahmatMu mengaruniakan hamba ini dengan anak yang soleh aku bersyukur kepadaMu ya Allah!”
Inilah yang dikatakan keberkahan memuliakan insan yang dimuliakan oleh Allah S.W.T. Hadis Nabi s.a.w : “Hinalah umatku, hinalah umatku, dimana dalam sisa hidup orang tua mereka, tidak dimanfaatkan apa-apa untuk meraih rahmat dari Allah S.W.T
Langganan:
Postingan (Atom)